DINAMIKA PEMBELAJARAN DARING AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI PADA MASA PANDEMI COVID-19

Oleh
Sukino
sukino1402@gmail.com

Pendahuluan

Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru dan peserta didik yang biasanya terjadi di lingkungan sekolah. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran untuk menciptakan generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas. Sebagai garda terdepat dalam pendidikan, guru dituntut untuk dapat mengajar, mendidik, memberikan arahan, melatih, menilai serta memberikan evaluasi hingga memberikan dukungan moral dan mental kepada peserta didik. Proses Pembelajaran biasanya dilakukan di sekolah, akan tetapi beberapa bulan terakhir proses belajar yang biasanya dilakukan guru di sekolah mengalami perubahan. Perubahan proses belajar ini terjadi karena munculnya sebuah wabah yang menggemparkan dunia (Putria dkk,2020).

Corona virus Diseases 2019 merupakan wabah penyakit yang mulai diketahui penyebarannya di akhir desember tahun 2019. Virus ini berasal dari Wuhan China yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia termasuk juga di Indonesia. Virus Corona mulai masuk dan menyebar di Indonesai pada awal tahun 2020 yaitu sekitar bulan Maret hingga sekarang. Dampak yang dialami indonesia dari adanya virus ini tidak hanya terjadi dalam  bidang kesehatan saja melainkan juga dalam bidang ekonomi, bidang sosial, dan juga bidang pendidikan. pemerintah mengeluarkan surat edaran pada tanggal 18 maret 2020 terkait pengaturan larangan untuk berkumpul atau berkerumun dalam segala kegiatan. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk memutus rantai penyebaran corona virus. Hal ini juga sesuai dengan himbauan yang dikeluarkan oleh WHO, dimana WHO menghimbau agar tidak mengadakan acara-acara yang mengumpulkan banyak masa terutama di sekolah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 24 Maret 2020  mengeluarkan surat edaran nomor 4 tahun 2020 terkait pelaksanaan kebijakan dalam masa darurat penyebaran Covid, dimana di dalam surat tersebut disebutkan bahwa proses kegiatan belajar mengajar saat ini dilakukan dengan daring. Tidak sedikit sekolah yang dengan cepat merespon surat edaran tersebut termasuk sekolah SD Negeri 1 Mataram. Pembelajaran dengan jarak jauh memungkinkan peserta didik dan guru dapat melaksanakan proses belajar meskipun mereka tidak berada di satu tempat atau ruang kelas. Pembelajaran yang dilakukan dengan jarak jauh atau daring merupakan  proses pembelajaran yang dilakukan dengan memanfaatkan perangkat elektronik dan internet dalam menyampaikan materi pembelajaran. Menurut Riyana (2019) mengatakan kegiatan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring lebih menekankan pada keterampilan peserta didik dalam mengolah informasi yang disajikan melalui online. Pada pelaksanaan pembelajaran daring tentunya memerlukan dukungan perangkat-perangkat mobile seperti leptop, Handphone, komputer atau perangkat lainnya yang dapat digunakan untuk mengakses internet.

Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan ini tentunya memiliki kekurangan dan kelebihn tersediri terutama pada jenjang pendidikan sekolah dasar. Pada pelaksanaan pembelajaran daring tidak sedikit wali murid yang mengeluh akan akan pembelajaran daring. Namun jika dilihat dari sisi kelebihan, pelaksanaan pembelajaran daring memberikan kemudahan bagi peserta didik maupun guru untuk melakukan pembelajaran dengan tidak adanya batasan ruang dan waktu. Dengan kata lain peserta didik dan guru dapat lebih mengoptimalisasi waktu maupun jarak dengan tidak harus pergi ke sekolah untuk belajar.

Menurut Sari (2015) pembelajaran daring mempunyai kelebihan yaitu memberikan suasana belajar baru bagi peserta didik dimana biasanya peserta didik melakukan kegiatan belajar di dalam kelas namun dengan pembelajaran daring peserta didik dapat melakukan kegiatanbelajar di rumah. Sedangkan kekurangan dari pembelajaran daing ini adalah sulitnya peserta didik untuk fokus pada pembelajaran karena suasana rumah yan kurang kondusif serta keterbatasan kuota internet yang menjadi penghubung dalam pembelajaran daring maupun gangguan lainnya. Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang di uraikan di atas maka peneliti tergerak untu  k memberikan gambaran terkait dengan dinamika proses pembelajaran disertai dengan faktor-faktor yang menjadi hambatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti pada masa pandemi covid-19 di SD Negeri 1 Mataram.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan merupakan metode penelitian kualitatif eksploratif dengan desain deskriptif dan studi literatur. Pada penelitian kualitatif  tidak mengenal adanya istilah populasi, namun oleh Spradley dalam Sugiono (2011) mengemukakan bahwa dinamika sosial atau situasi sosial terdiri dari tiga unsur yaitu tempat, pelaku dan aktivitas. Pada situasi sosail atau objek penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan mendalam terkait aktivitas orang-orang pada tempat tertentu (lingkungan sekolah).

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan atau menunjukkan pengalaman mengajar matapelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti yang dilakukan dengan jarak jauh di SD tempat peneliti mengajar.Pembelajaran daring yang dimaksut dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang dilakukan dengan media elektronik yang dapat diakses menggunakan data atau jaringan internet. Hasil data yang dikumpulkan merupakan data sekunder berupa hasil-hasil penelitian dari berbagai jurnal, sumber pustaka dan pengalaman mengajar pada masa pelaksanaan pembelajaran secara daring di SD Negeri 1 Mataram.

Pembahasan

Penelitian ini memaparkan informasi tentang dinamika guru dalam menjalankan pembelajaran daring yang disusun berdasarkan pengalaman mengajar serta informasi yang diperoleh dari beberapa wali murid peserta didik agama Hindu yang diperkuat dengan literasi yang relevan. Semua instansi pendidikan melaksanakan pembelajaran jarak jauh tanpa terkecuali SD Negeri 1 Mataram yang juga ikut serta menerapkannya yang secara otomatis di terapkan di semua bidang mata pelajaran tidak terkecuali juga pada mata pelajaran agama hindu. Selama pelaksanaan pembelajaran daring tentunya banyak ditemui kendala dan tantangan. Salah satu kendala yang ditemui dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran daring di SD Negeri 1 Mataram adalah jaringan internet, penguasaan penggunaan media elektronik maupun ketersediaan media atau perangkat pembelajaran yang memadai dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Keberhasilan sistem pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan ini sangat bergantung pada beberapa komponen baik dari guru, peserta didik, sumber belajar maupun media elektronik yang digunakan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.

Pada kenyataannya, banyak wali murid dari peserta didik yang tidak memiliki laptop atau bahkan handphone yang dapat digunakan untuk belajar secara daring dan juga mayoritas peserta didik pada tingkat sekolah dasar terutama pada kelas bawah belum memiliki handphone secara pribadi. Dengan kata lain handphone tersebut masih digunakan secara bersama-sama dengan orang tua. Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat peserta didik tidak dapat mengikuti pembelajaran secara maksimal. Ada saat dimana peserta didik mendapati jam belajar akan tetapi handphone yang digunakan masih dipegang atau di bawa oleh orang tua sehingga mau tidak mau peserta didik tidak bisa merespon kegiatan pembelajaran dengan baik.

Menurut Rustiani,dkk (2019) menyatakan bahwa agar proses belajar berjalan dengan baik, peserta didik memerlukan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan belajar. Sarana dan prasarana tersebut di antaranya handphone, komputer, atau leptop, aplikasi serta jaringan internet yang digunakan sebagai media dalam berlangsungnya kegiatan pembelajaran daring. Seperti yang kita ketahui bahwa media elektronik seperti laptop maupun handphone tersebut merupakan sarana pendukung yang sangat penting untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran daring. Selain memiliki media elektronik yang memadai, pelaksanaan pembelajaran daring ini juga memberikan tuntutan untuk menggunakan kuota internet. Hal ini tentunya menambah beban bagi wali murid dan peserta didik yang mengakibatkan pembelajaran daring tidak disambut baik sepenuhnya. Belajar secara daring memerlukan kuota internet yang memang tidak dapat dipungkiri bahwa untuk membeli kuota internet tersebut orang tua harus menyisihkan uangnya yang memang seharusnya tidak ada pada saat pelaksanaan pembelajaran konvensional serta ketidak stabilan jaringan internet yang ada. Beberapa wali murid mengatakan bahwa anaknya tidak mengikuti kelas di Grub WA karena tidak memiliki kuota atau kuotanya habis.

Pelaksanaan pembelajaran daring secara tidak langsung juga memberikan dampak yang kurang baik bagi peserta didik. Pembelajaran daring masih kurang maksimal terutama dalam penyampaian materi kepada peserta didik karena tidak bisa secara langsung. Kegiatan pembelajaran daring menyisipkan rasa ketidakpuasan bagi guru dalam menyalurkan materi karena pelaksanaan pembelajaran secara daring ini lebih menekankan kepada penugasan. Ditambah lagi dengan kurangnya minat dan motivasi belajar dari peserta didik untuk membaca materi, dimana media pembelajaran melalui whatsApp grup didominasi oleh pesan teks yang melatar belakangi hasil belajar peserta didik menjadi menurun.

Pembelajaran jarak jauh ini menjadikan pelaksanaan belajar yang cenderung lebih didominasi dengan pembelajaran berpusat kepada guru atau biasa disebut dengan teacher center. Seperti misalnya pada pelaksanaan diskusi, sebagian besar peserta didik hanya bersifat silent reader sehingga guru mau tidak mau langsung membahasnya mengingat waktu pelaksanaan pembelajaran secara daring lebih singkat daripada pembelajaran luring atau fase to face. Sikap pasif yang ditunjukkan oleh peserta didik tersebut tidak serta merta terjadi tanpa adanya alasan. Terdapat beberapa peserta didik yang menyatakan bahwa pada saat kegiatan belajar sedang berlangsung ia mengalami kesulitan untuk mengakses internet. Hal ini semakin menurunkan minat ataupun motivasi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring. Selama pelaksanaan pembelajaran daring ini berlangsung, hasil belajar peserta didik bervariasi dengan didominasi oleh hasil belajar yang kurang memuaskan.

Seiring dengan berjalannya waktu melihat telah sedikit kondusif dan telah masuk ke dalam daerah yang berzona hijau terkait persebaran virus corona, dinas pendidikan kabupaten pringsewu mengizinkan instansi pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara luring namun tetap harus mentaati protokol kesehatan virus corona. Menindak lanjuti hal ini pihak sekolah membagi jadwal pertemuan pembelajaran menjadi 3 kali dalam seminggu yaitu senin, selasa dan rabu. Hari senin digunakan untuk pertemuan pembelajaran kelas 6 dan kelas 5, hari selasa untuk kelas 4 dan kelas 3, sedangkan di hari rabu untuk kelas 2 dan 1. Pelaksanaan pembelajaran dengan sistem ini dapat menjadi lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran yang dilakukan secara daring. Setidaknya guru dapat memberikan pembelajaran secara langsung dan mengontrol kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik mampu menerima dan memahami materi yang disampaikan dengan maksimal.

Penutup

Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah peneliti lakukan proses pembelajaran masa pandemi covid-19 di SD Negeri 1 Mataram menunjukkan bahwa dengan adanya pandemi ini mengakibatkan keberlangsungan belajar menjadi tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Proses pembelajaran yang biasanya dilakukan secara face to face di dalam kelas berubah menjadi pembelajaran daring. Pembelajaran daring ini memberikan rasa pemenuhan tanggung jawab guru yang kurang maksimal dalam menyampaikan materi kepada peserta didik. Selain itu juga peserta didik sangat mudah merasa bosan karena sistem pembelajaran yang hanya memberikan tugas-tugas dengan sedikit penjelasan materi yang diberikan oleh guru melalui grub WA. Faktor-faktor yang menjadi pendukung untuk melaksanakan pembelajaran daring adalah adanya media elektronik seperti handphone, kuota dan jaringan internet yang stabil. Kemudian untuk hambatan yang ditemui pada saat melaksanakan pembelajaran daring adalah tidak semua peserta didik memiliki handphone, kesulitan dalam mengakses internet karena jaringan yang kurang stabil serta situasi di rumah yang kurang kondusif untuk belajar sehingga peserta didik malas untuk belajar. Peran wali murid sangat penting dalam pembelajaran daring yang dilakukan saat ini. Hal ini terjadi karena pada pembelajaran daring wali murid secara langsung terlibat dalam membimbing dan mengawasi peserta didik dalam pembelajaran.

Daftar Pustaka

Putria,H., Maula,Luthfi,H., dan Uswatun, Din,A.2020. Analisis Proses Pembelajaran Dalam jaringan (DARING) Masa Pandemi COVID-19 pada Guru Sekolah Dasar.Jurnal Besicedu, Vol:4, No:4, Hal:861-872,(file:///C:/Users/NUSER/Downloads/460-1581-2-PB.pdf) diakses 12 November 2020.

Rigianti, Henry,A. 2020. Kendala Pembelajaran Daring Guru Sekolah Dasar Di Kabupaten Banjarnegara. Elementary School, Vol:7, No:2, (file:///C:/Users/NUSER/Downloads/768-1828-1-PB.pdf) diakses 12 November 2020.

Riyana, C. (2019). Produksi Bahan Pembelajaran Berbasis Online:Universitas Terbuka.

Rustiani, R., Djafar, S., Rusnim, R., Nadar, N., Arwan, A., & Elihami, E. (2019, October). Measuring Usable Knowledge: Teacher’s Analyses of Mathematics for Teaching Quality and Student Learning. In International Conference on Natural and Social Sciences (ICONSS) Proceeding Series (pp. 239-245).

Sari, P. (2015). Memotivasi Belajar dengan Menggunakan E-Learning. Jurnal Ummul Quro, Vol:6, No:2, Hal:20–35, (http://ejournal.kopertais4.or.id/index.php/qur a/issue/view/531) diakses 12 November 2020.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *