Membangun Generasi dengan ASI

Oleh: Miswanto
Ketua LPMP Pandu Nusa

Masyarakat luas mengenal istilah ASI sebagai air susu ibu. ASI mengandung banyak   nutrisi, hormon, enzim, untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan ibunya ke   bayi. Scott Montgomery dari Karolinska Institute Swedia dalam penelitiannya mengatakan bahwa ASI mampu mengurangi infeksi, penyakit pernapasan dan diare pada bayi. Ibu yang menyusui bayinya juga bisa terhindar dari pendarahan pasca melahirkan. Montgomery juga menyebutkan bahwa secara psikologis anak yang diberi ASI lebih mampu menghadapi stres   akibat masalah dalam keluarganya daripada yang tidak diberikan ASI.

Begitu pentingnya ASI bagi bayi, sampai-sampai Pemerintah Indonesia menetapkan bulan Agustus sebagai bulan ASI Nasional. Hanya sayangnya, menurut data yang dikeluarkan UNICEF hanya 14% bayi di Indonesia yang disusui secara esklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan. Selebihnya bayi hanya diberikan susu formula.

Jika air susu ibu tersebut merupakan formula yang pertama dan utama dalam membangun generasi secara fisik maupun psikis, maka formula yang kedua yang juga tidak kalah utama dalam adalah agama, seni dan ilmu yang juga disingkat ASI. Sebagaimana air susu ibu yang mengandung nutrisi bagi bayi maka, ASI (selanjutnya dibaca: Agama Seni Ilmu) juga mengandung gizi-gizi kebudayaan yang mampu membangun generasi yang berbakti, berbudi dan berdikari.

Berbakti adalah wujud pelaksanaan ajaran agama. Dalam agama Hindu, kita harus bisa berbakti kepada Catur Guru yakni Guru Swadyaya (Sang Hyang Widdhi Wasa), Guru Rupaka (orang tua/leluhur), Guru Pangajyan (guru yang memberikan ilmu) dan Guru Wisesa (pemerintah atau bangsa dan negara). Berbudi adalah wujud atau hasil yang didapatkan dari vibrasi seni yang adi luhung sehingga bisa membentuk karakter manusia menjadi lemah lembut, kasih sayang dan sebagainya. Berdikari adalah kemandirian seseorang untuk berupaya dalam menyambung jalan-jalan kehidupan dan masa depan. Ini merupakan hasil yang didapatkan dari ilmu yang telah ia kuasai.

Hal tersebut selaras dengan apa yang telah diungkap oleh KGPAA Mangkunegara IV dalam Sêrat Wedhatama I.1 (dengan têmbang Pangkur) yang berbunyi: “mingkar mingkuring angkara, akarana karênan mardi siwi, sinawung résmining kidung, sinuba sinukarta, mrih krêtarta pakartining ngélmu luhung, kang tumrap néng tanah Jawa, agama agêming aji”. Jika diterjemahkan secara bebas têmbang Pangkur ini mempunyai makna sebagai berikut: “menghindarkan diri dari angkara, bila hendak mendidik putra, dikemas dalam keindahan syair (seni budaya), dihias agar tampak indah, agar tujuan ilmu luhur ini tercapai. Kenyataannya di tanah Jawa, agama dianut raja (dan juga rakyatnya)”.

Pupuh di atas digunakan untuk mengawali Sêrat Wedhatama yang banyak dikenal di kalangan masyarakat Jawa. Karena Wedhatama adalah berisi piwulang-piwulang weda (kautaman) yang dijadikan sebagai pedoman dalam proses pendidikan (panggulawênthah) bagi masyarakat Jawa, maka pupuh ini menjadi sangat berarti sebagai sebuah pondasi dalam membangun generasi yang njawani (penuh dengan kejujuran dan keluhuran budi).

Dalam têmbang Pangkur tersebut secara implisit tersirat bahwa untuk membangun generasi (mardi siwi) dibutuhkan materi-materi yang berisi formula suci dan mulia dari ajaran-ajaran agama (agama agêming aji), yang dikombinasikan dengan keindahan seni budaya (sinawung résmining kidung) dan diperoleh melalui ilmu pengetahuan yang luhur (pakartining ngélmu luhung). Ketiga formula yang disingkat ASI inilah yang akan dibahas satu per satu pada tulisan ini.

Agama agêming aji, inilah yang menjadi pondasi utama sekaligus formula pertama dalam pendidikan menurut masyarakat Jawa. Agama berisi tuntunan-tuntunan suci yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widdhi untuk manusia yang ada di muka bumi ini. Agama harus benar-benar dijadikan sebagai agêman (panutan) supaya dapat menjadi gêgaman (senjata yang ampuh) untuk mengatasi semua gêgodhan (godaan dan rintangan) di tengah-tengah perjalanan kehidupan menuju kesempurnaan (kasampurnaning gêsang). Keberadaan agama sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat Jawa, karena dengan agama maka hidup akan menjadi lebih ‘terarah’.

Ajaran agama Hindu menuntun umatnya agar bisa menuju kesucian (siwam) diri. Untuk dapat menuju kesucian itu maka umat Hindu harus melaksanakan dharma (kebajikan) di dunia ini. Zaehner (1993) menjelaskan bahwa pelaksanaan dharma dapat dilakukan dengan jalan menguasai Weda, askestisme (tapa brata yoga samadhi), penyangkalan diri, iman, korban suci, kesabaran, kemurnian watak, kasih sayang, kejujuran, mawas diri dan kemajuan diri. Dengan begitu maka ia akan dapat memperoleh kesucian (śiwam) ini maka manusia akan dapat mencapai alam para dewata (Śiwaloka) dan mencapai moksa (manunggaling kawula gusti).

Sinawung résmining kidung berkenaan hal-hal yang berhubungan dengan keindahan. Kata sinawung berasal dari kata dasar ‘sawung’ yang artinya bersama-sama atau berkombinasi. Résmi (raśmi) adalah pesona keindahan. Kidung adalah nyanyian atau têmbang. Kata  résmining kidung ini mewakili unsur seni yang seharusnya dikombinasikan (sinawung) dengan unsur sebelumnya (agama) dalam proses pendidikan anak.

Seni yang adi luhung merupakan formula dan sekaligus materi edukasi yang mampu membentuk karakter dan budi pekerti. Bagi masyarakat Jawa, alunan-alunan gêndhing gamelan dan suara-suara têmbang (kidung) yang didendangkan akan memancarkan (raśmi) vibrasi positif yang merasuk dalam jiwa raga setiap orang yang mendengarnya. Semakin lama gelombang-gelombang swara nada yang dipancarkan dari karya seni budaya manusia tersebut akan mempengaruhi gelombang-gelombang pikiran dan perasaannya sehingga nantinya ia bisa menjadi orang yang tenang, lemah-lembut, penuh kasih dan sebagainya. Seni budaya juga bisa membuat hidup menjadi lebih ‘indah’.

Dalam ajaran Hindu, hal-hal yang berbau keindahan itu disebut sebagai sundaram. Seni adalah bagian dari apa yang dinamakan sebagai sundaram tersebut. Dalam sastra dan susastra Hindu Tuhan juga menjelma sebagai Dewa keindahan dan mereka mencandikan sastra itu sebagai sebuah bentuk persembahan untuk menuju kelepasan. Menurut Mpu Tanakung dalam mahakaryanya Kakawin Wrêttasañcaya, apa yang dituju oleh seorang kawi pun pada hakekatnya sama dengan apa yang hendak dicapai oleh seorang yogi yaitu ‘kêlêpasan’ (sadhana sang kawīśwara n asadhya kalêpasan i sandi ning mangö).

Mrih krêtarta pakartining ngélmu luhung, inilah pernyataan tentang pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Dalam baris pertama Kakawin Niti Śāstra II.5 disebutkan ‘nora’na mitra manglêwihana wara guna maruhur (tidak ada kawan yang dapat melebihi ilmu pengetahuan luhur). Dalam kehidupan ini dibutuhkan ilmu pengetahuan luhur guna mempermudah mencapai kesejahteraan dunia (jagadhīta). Dengan kata lain ilmu pengetahuan yang luhur akan membuat hidup menjadi lebih ‘mudah’.

Dengan ngélmu luhung (ilmu yang luhur) sebagaimana yangd disebutkan di atas, manusia akan mampu menemukan kebenaran sejati (satyam) yang merupakan perwujudan dari Tuhan itu sendiri. Kebenaran ilmu pengetahuan yang luhur selain akan memberikan jalan bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan dunia (jagadhita), juga dapat menuntun mereka mencapai tujuan akhir yakni moksa (kêlêpasan).

Berpijak pada uraian di atas, maka ASI sangat diperlukan untuk menuju Siwam (kesucian), Satyam (kebenaran) dan Sundaram (keindahan) yang merupakan representasi dari Tuhan itu sendiri. Jika Tuhan dipahami sebagai Siwam, maka akan terkait dengan pelaksanaan dharma atau ajaran-ajaran agama sehingga hidupnya menjadi ‘lebih terarah’. Jika Tuhan dipahami sebagai sundaram maka akan terkait dengan kegiatan seni budaya seperti seni tari, seni rupa, seni suara dan lain-lain yang mampu membuat hidup menjadi ‘lebih indah’. Sebaliknya jika Tuhan dipahami sebagai Satyam maka akan terkait dengan ilmu pengetahuan luhur yang mampu membuat hidup menjadi ‘lebih mudah’ untuk mencapai kesejahteraan dunia dan kebahagiaan yang kekal (moksa).

Sekali lagi untuk membangun generasi yang berbakti, berbudi dan berdikari diperlukan agama, seni dan ilmu (ASI) yang membuat hidup menjadi lebih terarah, lebih indah dan lebih mudah. ASI akan memberikan energi dalam diri setiap generasi untuk menjadi insani yang berbakti, berbudi dan berdikari sehingga mampu mencapai tujuan di dunia ini maupun tujuan di akhir nanti. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *